Motivation Letter ~thoughts about mental~

| Minggu, 04 Oktober 2020

Motivation Letter


                A deep review about oneself. A wide perspective about world. A little push to embrace mental health.   

                Iya. Kamu dengar itu? Sebuah dorongan kecil untuk merangkul kesehatan mental di ranah masyarakat. Mendengar kalimat itu, Saya, Mahasiswa biasa, yang terkurung oleh bayang-bayang masa lalu bagaikan 'Burung yang terkurung di dalam kandang'. Manusia mempunyai sebuah eksistensi yang disebut sebagai 'perasaan', 'feeling', atau 'emotion'. Perasaan mempunyai kekuatan yang luar biasa, bahkan sampai mencakup aspek energi kehidupan.

                Emosi positif dapat memberikan energi positif dalam aspek internal, maupun external. Sebaliknya, Emosi negatif dapat memberikan energi negatif. Ketika dirimu tercerahkan oleh energi positif yang ada, rasanya akan lebih mudah untuk menjalani apapun masalahnya. Tapi ketika dirimu termakan oleh energi negatif disekitar, maka akan lebih mudah untuk jatuh. Ketika kita hanya melihat hal-hal gelap, energi yang membuatmu menjadi mudah menyerah karena sudah tidak mempunyai harapan, atau energi yang melahapmu sedalam-dalamnya lautan dan merasa tercekik di dalamnya hingga tidak dapat berkutik.

                Untuk mengapresiasi diri sendiri tentu tidak mudah, pertama-tama kita harus tahu siapa diri kita, lalu bercermin dan mulai memahami diri. Buka dirilah kepada orang-orang luar, lalu tanyakan apa pendapat mereka terhadap dirimu. Yakinlah kalau kamu itu punya kelebihan, kamu itu kuat, dan lainnya. Sehingga itu akan memudahkanmu untuk menerima diri sendiri apa adanya dan dengan acuan tersebut, kamu dapat bergerak maju. 

                 Setelah berhasil mencari identitas diri, mulailah menjadi orang yang dapat dipercaya oleh orang lain. Percayalah bahwa kita mempunyai pengaruh besar terhadap orang lain, seberapa besar pun pengaruhnya, orang lain dapat berubah karena tindakan kita. Kita makhluk sosial sudah seharusnya membantu orang lain, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Bayangkan apabila kita hidup sendiri, mungkin saja kita akan terus-menerus tenggelam ke dasar keputusasaan. Tidak mempunyai lawan bicara, tidak mempunyai orang yang dapat membantu, tidak mempunyai orang yang mampu membuatmu melangkah maju, tidak mempunyai orang yang bisa kamu ajak main bersama. Bukankah hal seperti itu sangat menyedihkan untuk dilihat?

                  Balik lagi ke topik mengenai korelasi Pahlawan sebagai pemberi Energi Positif, dan Penjahat sebagai pemberi Energi Negatif. Pahlawan di konteks ini adalah sebagai orang yang bersedia membantu orang lain disaat kesulitan, dan Penjahat adalah sebagai orang yang berusaha memperburuk keadaan, mengacuhkan perasaan, dan tidak menerapkan nilai-nilai common sense.  Contoh terdekatnya adalah orang yang ingin menjatuhkan orang lain yang sedang dalam kesulitan.

                    Celakanya, masyarakat kita masih menilai buruk orang yang hampir, atau bahkan sudah kehilangan akal sehatnya. Mereka cenderung menilai hasilnya saja, tidak dengan prosesnya. Namun apa yang akan terjadi bila kita, misal, merangkul mereka ditengah proses menuju akhir tersebut? Pasti mereka pun dapat kembali ceria, dan lain-lain.

               Sedikit kata-kata dari penulis. "Ketika ada saatnya dimana cahaya harapan sudah redup, disitulah saatnya kita mencoba untuk menjadi perantara cahaya tersebut, rangkul mereka yang terlahap ombak lautan keputusasaan, dan buatlah mereka yakin kalau kamulah pahlawan mereka."

                Kalau kita tidak mencobanya, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya.


                Curhat sedikit. Penulis juga pernah merasa sekali putus asa, namun sekarang dapat mengacuhkan omongan buruk yang orang lontarkan ke kita untuk membuat kita makin tenggelam. Jadi untuk kawan disana. Stay Care, Stay Safe, Stay Alive ya!

それでは皆さん、良い幸運を。効率的に人生を上手く使えるように忘れないで、ね?

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲