Esai Mental Health

| Jumat, 09 Oktober 2020

Di masa yang sulit seperti saat pandemi ini, Kesehatan Mental harus diperhatikan lebih sering lagi. Kenyataan yang membebani kehidupan banyak orang dapat membuat masyarakat lainnya cenderung jatuh depresi. Dengan merangkul mereka yang dicap sebagai 'Orang gila' 'Orang stress', kita dapat merubah pandangan orang-orang terhadap Kesehatan Mental.

Organisasi Kesehatan Dunia dan Institute for Health Metrics and Evaluation (Lembaga Metrik dan Evaluasi Kesehatan) melaporkan bahwa 20% anak- anak dan remaja harus bergumul dengan masalah- masalah terkait mental health ini dan 50% dari gangguan mental muncul sebelum usia 14 tahun. Di dunia diperkirakan sekitar 300 juta orang mengalami depresi. Bahkan, World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri di seluruh dunia yang diakibatkan oleh depresi. Data di Indonesia dari 2019 menunjukkan dari sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi, hanya 8% nya saja yang melaukakn pengobatan. Rupanya hal ini diperparah dengan bermacam stigma yang melekat pada pengidap mental illness. Hal ini sudah cukup mengerikan.

Penyebab mental illness sebenarnya cukup bermacam-macam. Ada yang memang disebabkan oleh kelainan hormon dari dalam tubuh (biasanya disebut Gangguan Mental Organik) maupun karena suatu peristiwa atau psikologis yang juga bisa menjadi trigger. Diagnosis gangguan mental biasanya dilakukan oleh psikiater dengan mewawancari pasien dan/atau keluarganya. Untuk di Indonesia sebenarnya diagnosis ini sudah cukup baik melihat angka yang terlihat untuk kasus depresi sudah cukup tinggi. Yang bermasalah di sini adalah penyelesaian masalah dan pengobatannya.

Di Indonesia terdapat banyak stigma yang melekat pada penderita gangguan mental sehingga untuk pengusahaan kewaspadaan terhadap isu kesehatan mental terasa cukup sulit. Hal ini dapat berupa lingkungan yang menolak keberadaan penderita, stigma bahwa penderita penyakit mental itu orang yang bodoh, tidak bisa apa-apa sampai sulit disembuhkan. Selain itu kepercayaan terhadap tenaga professional di bidang medis cukup rendah di beberapa kalangan masyarakat. Hal ini juga berhubungan dengan kesenjangan sosial yang membuat bebrapa pihak semakin tidak dapat mengakses fasilitas untuk menunjang kesehatan mental. Hal inilah yang mendorong kemunculan stigma – stigma yang memperparah penanganan penyakit mental di Indonesia.

Kesehatan Mental itu bukan hanya konsep yang mengacu pada kesehatan psikologis dan emosi individu, melainkan kondisi psikologis dan emosi yang mana individu dapat menggunakan nalar dan emosinya dengan baik, memenuhi permintaan dan fungsi yang umum di masyarakat. Menurut WHO, bahwa tidak ada artian resmi untuk Kesehatan Mental itu sendiri.

Maka dari itu, banyak sekali faktor seperti perbedaan budaya, penerapan subyektif, dan lainnya yang menunjukkan bagaimana Kesehatan Mental tersebut diartikan. Juga, banyak pakar yang setuju kalau sakit mental dan kesehatan mental bukan antonim. Jadi dengan kata lain, ketika tidak ada gangguan mental yang ditemukan, hal tersebut bukan berarti Kesehatan Mental. 

Salah satu cara untuk berpikir mengenai Kesehatan Mental adalah melihat bagaimana seorang individu bertindak secara sukses dan efektif. Jadi ada banyak faktor yang termasuk seperti merasa kompeten, merasa mampu melakukan sesuatu, dan merasa mampu mengendalikan stress biasa, menjalin hubungan yang mengasikkan dan juga mengarah untuk menjalin hidup bebas. Juga termasuk sembuh dari situasi sulit dan dapat bangkit kembali.

Kesimpulan yang didapat adalah, kurangnya keperdulian masyarakat terhadap Mental Health sangatlah disayangkan karena kita, sesama manusia, harus mendukung satu sama lain.


0 komentar:

Posting Komentar

Prev
▲Top▲